LUKA PILU SAHABATKU
Beberapa waktu yang lalu, tanpa disengaja aku berkenalan dengan seorang gadis remaja melalui seorang teman Sebut saja namanya Nur. Perkenalan itu berlanjut dengan komunikasi yang sangat intens antara aku dan dia. Hingga tepat pada hari senin (16/07/07) yang lalu dia menyuruh aku datang kekontrakannya (kebetulan dia anak Kost) di Kota Bandung. Akhirnya dengan modal yang pas-pas-an aku berangkat ke Bandung. Karena terlalu mendadak dan karena sifatnya yang penting, akhirnya aku berangkat ke Bandung.
Sesampainya di Kosa-nya, ekspresi pertamaku adalah kaget karena dia bukan seperti gadis yang kukenal beberapa waktu yang lalu, yang feminim, tapi yang kutemui saat itu adalah seorang gadis tomboi dan gaul ( karena gaya-nya yang seperti laki-laki). Yang paling membuatku kaget lagi adalah dia ternyata merokok.
Awalnya kami hanya cerita hal-hal biasa, mulai dari pekerjaan, sekolah hingga masalah percintaan. Tapi ketika aku minta pendapat dia tentang laki-laki, dia malah menangis. Terus terang aku bingun dengan kejadian ini. Aku tanya kenapa menangis? dia malah diam. Tapi itu tak berlangsung lama karena dia akhirnya mau cerita masalah yang sebenarnya. Untung sebelumnya kami sudah akrab walau hanya melalui SMS dan telpon. Jadi nggak sulit untuk meminta dia cerita masalahnya.
Dia menganggap semua laki-laki itu penipu dan brengsek. Dia mempunyai pengalaman buruk dengan laki-laki tapi bukan putus cinta. Awal ceritanya terjadi 10 tahun yang lalu, saat dia baru kelas 2 SMA yang katanya dia masih polos tentang masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Saat itu dia mempunyai kakak perempuan yang baru saja menikah dengan suaminya. Beberapa minggu setelah itu kejadian itu pun terjadi.
Pada suatu malam, saat dia sedang tidur di kamarnya (kebetulan katanya dia sendiri dikamar tersebut –dia masih punya kakak perempuan yang lain, tapi saat kejadiaan kakaknya tidak ada dirumah karena sudah kerja di Bandung) kakak iparnya masuk kamarnya. Saat itu dia belum mengetahui kalau kakak iparnya masuk kamarnya, karena dia lagi tidur. Dia terbangun dari tidurnya saat dia merasa ada yang meraba-raba tubuhnya. Saat dia bangun, dia melihat kakak iparnya sudah berada di depannya. Dia tanya ke kakak iparnya, kenapa dia ada dikamarnya. Kakak iparnya menjawab dia tadi melihat banyangan orang di luar rumah saat dia menonton TV di ruang tamu. Karena takut dia masuk kamar Nur dan dengan ekspresi orang ketakutan –badan menggigil-. Karena Nur menganggap kakak iparnya adalah orang yang baik –kebetulan kakak iparnya seorang ulama di kampungnya, Lulusan Pesantren Gontor- Nur tidak mencurigai apa-apa sama kakak iparnya. Dia pun mempersilahkan kakak iparnya tidur disampingnya, walau tempat tidurnya hanya muat untuk satu orang.
Saat mereka tidur, Nur yang kebetulan waktu itu sakit flu, kakak iparnya menawarkan diri untuk mengurut lehernya. Nur menurut saja, karena dia tidak mempunyai kecurigaan terhadap kakaknya. Saat diurut dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan kakak iparnya. Karena tangannya tidak hanya meraba bagian lehernya tapi sudah kebagian tubuh yang lain. Saat itu kakaknya mengajak dia untuk berhubungan suami-istri. Nur yang sejak awal tak menaruh kecurigaan pada kakak iparnya kaget bukan maen, lantas dia turun dari tempat tidur. Tapi kakak iparnya sudah memegang tanganya terlebih dahulu biar dia tidak bisa pergi. Lantas dia menangis. Mungkin karena takut ketahuan sama orang satu rumah, kakak iparnya akhirnya keluar dari kamar Nur dan sebelum keluar dia bilang sama Nur untuk tidak bilang ke siapa-siapa tentang kejadian malam itu.
Kejadian itu ternyata tidak hanya terjadi satu kali itu saja. 2 bulan berikutnya kakak iparnya kembali masuk kamarnya dan kembali mengajak Nur melakukan hubungan suami-istri. Karena Nur tidak tahan dengan kelakuan kakak iparnya, dia memutuskan untuk ikut kakak perempuannya yang kedua di Bandung. Di Bandung dia mulai melupakan kejadian yang pernah dia alami saat di rumah, tapi sampai 10 tahun dia belum bisa melupakan kejadian itu. Bahkan sampai saat ini kejadiaan itu kembali sering teringat mengingat dia mempunyai adik perempuan yang baru kelas 3 SLTP dan tinggal bersama kakak iparnya di rumah orang tuanya. Ketika dia mengingat kejadian waktu lalu yang dilakukan oleh kakak iparnya, dia selalu khawatir kejadian serupa akan di alami oleh adik perempuannya.
Dia sudah berusaha memberitahukan kejadian ini ke beberapa keluarganya. Salah satunya adalah kakak perempuannya yang kedua, tapi tidak respon apa-apa. Begitu juga waktu dia bilang ke Tantenya, juga tidak mendapat respon yang positif. Harapanya hanya tinggal adek laki-lakinya yang baru saja wisuda di salah satu Universitas di Bandung. Namun, Nur masih mempersiapkan segalanya, termasuk mentalnya.
Dia tidak mau menceritakan kejadian ini sama kakak kandungnya (istri dari kakak iparnya) dan juga ibunya karena dia tidak mau melihat keluarga kakaknya berantakan karena kejadian itu, atau ibunya nanti makin menderita mendengar berita itu. Dia semakin kasihan sama ibunya karena sudah lama dimadu oleh bapaknya sendiri. Bapaknya menikah lagi dengan perempuan lain waktu dia masih berusia 8 tahun. Hal ini juga semakin menambah kebenciaannya sama laki-laki.
Akhirnya dia menyimpan sendiri masalah ini, bahkan sampai saat ini. Karena kejadiaan itulah Nur hidup saat ini seperti tidak mempunyai arti. Tiap hari menyendiri di kamar kostnya, merokok, main gitar dan lain sebagainya. Bahkan tidurpun menurut pengakuannya tidak bisa, karena dia bisa tidak tidur dalam sehari semalam.
Walau akhir-akhir ini dia sudah mulai membuka diri terhadap laki-laki, termasuk aku salah satunya yang sudah dianggap sebagai teman dekatnya karena katanya hanya aku, orang selain dari keluarganya dan teman satu kamarnya yang dia ceritakan masalah ini. Tapi pandangan dia terhadap laki-laki tidak pernah berubah kalau dia teringat masalah itu.
Aku sendiri merasa kasihan juga dengan dia, apalagi melihat akibat dari kejadian itu terhadap dirinya. Tapi aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Apa yang bisa aku buat untuk membuatnya bisa melupakan kejadian itu dan terutama mengeluarkan adik perempuannya dari kemungkinan mendapat perlakuan serupa dari kakak iparnya? Aku suruh dia untuk melaporkan saja ke pada pihak yang berwenang, dia nggak mau, karena kasihan sama kakaknya dan keluarganya yang terkena imbasnya nanti. Inilah kalau perasaan yang di dahulukan dari pada penyelesaian jangka panjang.
Mohon tanggapan dan jalan keluarnya.....
Beberapa waktu yang lalu, tanpa disengaja aku berkenalan dengan seorang gadis remaja melalui seorang teman Sebut saja namanya Nur. Perkenalan itu berlanjut dengan komunikasi yang sangat intens antara aku dan dia. Hingga tepat pada hari senin (16/07/07) yang lalu dia menyuruh aku datang kekontrakannya (kebetulan dia anak Kost) di Kota Bandung. Akhirnya dengan modal yang pas-pas-an aku berangkat ke Bandung. Karena terlalu mendadak dan karena sifatnya yang penting, akhirnya aku berangkat ke Bandung.
Sesampainya di Kosa-nya, ekspresi pertamaku adalah kaget karena dia bukan seperti gadis yang kukenal beberapa waktu yang lalu, yang feminim, tapi yang kutemui saat itu adalah seorang gadis tomboi dan gaul ( karena gaya-nya yang seperti laki-laki). Yang paling membuatku kaget lagi adalah dia ternyata merokok.
Awalnya kami hanya cerita hal-hal biasa, mulai dari pekerjaan, sekolah hingga masalah percintaan. Tapi ketika aku minta pendapat dia tentang laki-laki, dia malah menangis. Terus terang aku bingun dengan kejadian ini. Aku tanya kenapa menangis? dia malah diam. Tapi itu tak berlangsung lama karena dia akhirnya mau cerita masalah yang sebenarnya. Untung sebelumnya kami sudah akrab walau hanya melalui SMS dan telpon. Jadi nggak sulit untuk meminta dia cerita masalahnya.
Dia menganggap semua laki-laki itu penipu dan brengsek. Dia mempunyai pengalaman buruk dengan laki-laki tapi bukan putus cinta. Awal ceritanya terjadi 10 tahun yang lalu, saat dia baru kelas 2 SMA yang katanya dia masih polos tentang masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Saat itu dia mempunyai kakak perempuan yang baru saja menikah dengan suaminya. Beberapa minggu setelah itu kejadian itu pun terjadi.
Pada suatu malam, saat dia sedang tidur di kamarnya (kebetulan katanya dia sendiri dikamar tersebut –dia masih punya kakak perempuan yang lain, tapi saat kejadiaan kakaknya tidak ada dirumah karena sudah kerja di Bandung) kakak iparnya masuk kamarnya. Saat itu dia belum mengetahui kalau kakak iparnya masuk kamarnya, karena dia lagi tidur. Dia terbangun dari tidurnya saat dia merasa ada yang meraba-raba tubuhnya. Saat dia bangun, dia melihat kakak iparnya sudah berada di depannya. Dia tanya ke kakak iparnya, kenapa dia ada dikamarnya. Kakak iparnya menjawab dia tadi melihat banyangan orang di luar rumah saat dia menonton TV di ruang tamu. Karena takut dia masuk kamar Nur dan dengan ekspresi orang ketakutan –badan menggigil-. Karena Nur menganggap kakak iparnya adalah orang yang baik –kebetulan kakak iparnya seorang ulama di kampungnya, Lulusan Pesantren Gontor- Nur tidak mencurigai apa-apa sama kakak iparnya. Dia pun mempersilahkan kakak iparnya tidur disampingnya, walau tempat tidurnya hanya muat untuk satu orang.
Saat mereka tidur, Nur yang kebetulan waktu itu sakit flu, kakak iparnya menawarkan diri untuk mengurut lehernya. Nur menurut saja, karena dia tidak mempunyai kecurigaan terhadap kakaknya. Saat diurut dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan kakak iparnya. Karena tangannya tidak hanya meraba bagian lehernya tapi sudah kebagian tubuh yang lain. Saat itu kakaknya mengajak dia untuk berhubungan suami-istri. Nur yang sejak awal tak menaruh kecurigaan pada kakak iparnya kaget bukan maen, lantas dia turun dari tempat tidur. Tapi kakak iparnya sudah memegang tanganya terlebih dahulu biar dia tidak bisa pergi. Lantas dia menangis. Mungkin karena takut ketahuan sama orang satu rumah, kakak iparnya akhirnya keluar dari kamar Nur dan sebelum keluar dia bilang sama Nur untuk tidak bilang ke siapa-siapa tentang kejadian malam itu.
Kejadian itu ternyata tidak hanya terjadi satu kali itu saja. 2 bulan berikutnya kakak iparnya kembali masuk kamarnya dan kembali mengajak Nur melakukan hubungan suami-istri. Karena Nur tidak tahan dengan kelakuan kakak iparnya, dia memutuskan untuk ikut kakak perempuannya yang kedua di Bandung. Di Bandung dia mulai melupakan kejadian yang pernah dia alami saat di rumah, tapi sampai 10 tahun dia belum bisa melupakan kejadian itu. Bahkan sampai saat ini kejadiaan itu kembali sering teringat mengingat dia mempunyai adik perempuan yang baru kelas 3 SLTP dan tinggal bersama kakak iparnya di rumah orang tuanya. Ketika dia mengingat kejadian waktu lalu yang dilakukan oleh kakak iparnya, dia selalu khawatir kejadian serupa akan di alami oleh adik perempuannya.
Dia sudah berusaha memberitahukan kejadian ini ke beberapa keluarganya. Salah satunya adalah kakak perempuannya yang kedua, tapi tidak respon apa-apa. Begitu juga waktu dia bilang ke Tantenya, juga tidak mendapat respon yang positif. Harapanya hanya tinggal adek laki-lakinya yang baru saja wisuda di salah satu Universitas di Bandung. Namun, Nur masih mempersiapkan segalanya, termasuk mentalnya.
Dia tidak mau menceritakan kejadian ini sama kakak kandungnya (istri dari kakak iparnya) dan juga ibunya karena dia tidak mau melihat keluarga kakaknya berantakan karena kejadian itu, atau ibunya nanti makin menderita mendengar berita itu. Dia semakin kasihan sama ibunya karena sudah lama dimadu oleh bapaknya sendiri. Bapaknya menikah lagi dengan perempuan lain waktu dia masih berusia 8 tahun. Hal ini juga semakin menambah kebenciaannya sama laki-laki.
Akhirnya dia menyimpan sendiri masalah ini, bahkan sampai saat ini. Karena kejadiaan itulah Nur hidup saat ini seperti tidak mempunyai arti. Tiap hari menyendiri di kamar kostnya, merokok, main gitar dan lain sebagainya. Bahkan tidurpun menurut pengakuannya tidak bisa, karena dia bisa tidak tidur dalam sehari semalam.
Walau akhir-akhir ini dia sudah mulai membuka diri terhadap laki-laki, termasuk aku salah satunya yang sudah dianggap sebagai teman dekatnya karena katanya hanya aku, orang selain dari keluarganya dan teman satu kamarnya yang dia ceritakan masalah ini. Tapi pandangan dia terhadap laki-laki tidak pernah berubah kalau dia teringat masalah itu.
Aku sendiri merasa kasihan juga dengan dia, apalagi melihat akibat dari kejadian itu terhadap dirinya. Tapi aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Apa yang bisa aku buat untuk membuatnya bisa melupakan kejadian itu dan terutama mengeluarkan adik perempuannya dari kemungkinan mendapat perlakuan serupa dari kakak iparnya? Aku suruh dia untuk melaporkan saja ke pada pihak yang berwenang, dia nggak mau, karena kasihan sama kakaknya dan keluarganya yang terkena imbasnya nanti. Inilah kalau perasaan yang di dahulukan dari pada penyelesaian jangka panjang.
Mohon tanggapan dan jalan keluarnya.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar