Rabu, 13 Februari 2008


Obama, Jidal dan Kepemimpinan Kaum Muda
Oleh: Sunardi Panjaitan

Perhelatan pesta demokrasi yang saat ini berlangsung di Amerika Serikat, membawa secercah harapan akan lahirnya kepemimpinan kaum muda di Indonesia. Paling tidak kehadiran tokoh-tokoh muda di negara adidaya tersebut mampu menginspirasi kaum muda Indonesia untuk mengambil alih kepemimpinan negeri ini.

Kehadiran Barack Obama dalam daftar calon presiden partai Demokrat yang bersaing dengan Hillary Clinton serta terpilihnya Piyush Jidal, anak muda keturunan India menjadi gubernur di salah satu negara bagian Louisiana menunjukkan bahwa kaum muda negeri adidaya tersebut mampu bersaing dengan politikus lama yang sudah tua.

Barack Obama, di usianya yang relatif muda saat ini menjadi salah satu calon terkuat partai demokrat untuk menjadi presiden pada pemilu November mendatang. Sedangkan Jidal, di usia yang 37 tahun telah menjadi gubernur di negara bagian. Di usia yang cukup muda mereka mampu hadir dalam percaturan politik yang berjalan secara ketat dan demokratis.

Keberanian Berpolitik

Hal pertama yang harus dilakukan oleh kaum muda dalam rangka merebut kepemimpinan yang saat ini masih dikuasai oleh kalangan tua yang sudah terbukti gagal dalam mengimplikasikan agenda-agenda reformasi adalah terlibat langsung dalam partai politik sebagai jalan masuk utama dalam perpolitikan. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Obama dan Jidal hingga mereka mampu tampil sebagai pelopor kepemimpinan kaum muda di negara adidaya tersebut.

Obama yang tercatat sebagai kader partai Demokrat dan Jidal sebagai kader partai Republik membuktikan bahwa partai politik adalah sarana yang tepat untuk melakukan perubahan yang gagal dilakukan oleh pendahulunya.

Lain halnya dengan kaum muda di Indonesia yang cenderung menjauhi partai politik. Kaum muda yang di dominasi oleh aktivis-aktivis independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Hal ini sebenarnya akan menghambat agenda-agenda pengambilalihan kepemimpinan oleh kaum muda. Kaum muda lebih sering mengemukakan idenya dalam bentuk kritik-kritik di media massa, yang belum tentu bisa di akomodir oleh partai politik.

Memang terdapat jalur lain yang bisa dimaksimalkan yakni dibukanya jalur independen dalam pilkada atau mungkin dalam dalam pilpres nanti. Namun, dalam mengkonsolidasi massa hanya bisa dilakukan oleh partai politik, calon independen akan sangat sulit berkompetisi dengan partai politik yang sudah mempunyai mesin politik yang pasti.

Tawaran lain bagi para kaum muda yang juga aktivis independen adalah membentuk partai politik sendiri. Di mana para aktivis muda menyatukan diri dalam satu partai politik yang dibentuk secara bersama. Sehingga tidak lagi terbentur oleh kebijakan kaum tua yang saat ini mendominasi di partai-partai besar seperti Golkar, PDI-Perjuangan, Partai Demokrat, PPP dan lain-lain.

Munculnya partai politik yang sepenuhnya di isi dan di dukung oleh kaum muda juga mempunyai manfaat lain selain mengakomodasi kepentingan politik kaum muda juga tidak terjadi pertikaian antara aktivis muda dalam aktivitas politiknya. Jika para aktivis muda tersebar dalam beberapa partai politik, masih dimungkinkan terjadinya perbedaan pendapat yang notabene membela kepentingan partai palitiknya.

Dibutuhkan keberanian dari kalangan muda untuk berani tampil dalam hiruk-pikuk panggung politik. Jika tidak demikian maka wacana kepemimpinan kaum muda hanya sekedar wacana yang yang tidak pernah terealisasikan. Mengharapkan kaum tua yang saat ini mendominasi panggung politik untuk melirik kaum muda untuk di dorong menjadi pemimpin bangsa kedepan adalah hal yang mustahil karena masih adanya keinginan kuat untuk mempertahankan status quo-nya.

Belajar dari Obama dan Jidal

Menjelang pemilihan umum tahun 2009 nanti, kehadiran kepemimpinan kaum muda menjadi sebuah keharusan mutlak sebagai upaya mengembalikan keindonesiaan ke rel sesungguhnya. Cita-cita kita berbangsa dan bernegara hendak dihela kembali pada jalur mulianya seperti tertegaskan dalam Pembukaan UUD 1945: menciptakan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sudah tidak bisa lagi berharap kepada "mobil bekas" untuk menaiki tanjakan yang terjal. Kalaupun "mobil bekas" diperbaiki, itu bukan solusi. Lebih baik membeli "mobil baru". Kepemimpinan nasional saatnya diserahkan kepada kaum muda

Tapi dengan kondisi kaum muda Indonesia saat ini yang belum juga menunjukkan geliat untuk keluar dari persembunyiannya yang hanya bisa mengkritik dari luar sistem, muncul sebuah keraguan dan pesimisme akan kepemimpinan tersebut. Mungkinkan akan lahir kepemimpinan kaum muda di pemilu 2009 mendatang?

Harus diakui bahwa menguatnya wacana kepemimpinan kaum muda adalah tamparan yang amat telanjang bagi partai politik. Partai politik gagal merotasi kepemimpinan nasional pada tokoh-tokoh muda yang masih segar. Karena itu, wacana kepemimpinan kaum muda yang tidak didukung partai politik akan membuat partai makin tidak populer di mata publik. Partai akan dinilai sekadar alat akumulasi kekuasaan karena tidak properubahan. Partai yang terlalu bersandar pada orang-orang tua perlahan-lahan akan membajak demokrasi, bukan memberi titik terang bagi jalan demokratisasi.

Namun, apapun argumen yang ingin dibangun, kehadiran Obama dan Jidal sebagai perwakilan kaum muda dalam panggung politik Amerika harus menjadi sebuah pelajaran bagi kelompok aktivis muda di Indonesia untuk tampil menjadi alternatif baru kepemimpinan di Indonesia. Untuk itu, kekahawatiran partai politik yang saat ini masih di dominasi kaum tua, harus dijadikan momen oleh kaum muda untuk tampil kepermukaan panggung politik negeri ini.**

Tidak ada komentar: