Pada 11 September 2001 New York dikejutkan oleh serangan yang menghancurkan dua pencakar langit simbol kapitalisme Amerika Serikat. Amerika telah menjadi sasaran ”teroris”. Banyaknya korban yang berjatuhan membuat seluruh mata tertuju pada peristiwa naas tersebut. Mayarakat dunia ikut merasakan kepedihan rakyat AS. Sebuah serangan yang mungkin akan menyadarkan atau bahkan membangunkan masyarakat AS dari tidur lelapnya.
Beberapa hari setelah terjadinya serangan tersebut, National Science Foundation bersama Rockefeller Fuondation dan Columbia University membentuk sebuah proyek yang dinamakan The September 11, 2001: Oral History Narrative And Memory Project. Proyek ini bertujuan untuk melihat bagaimana reaksi masyarakat New York pada umumnya beberapa har setelah terjadinya serangan dimana masyarakat belum termakan propaganda media dan retorika para politisi.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Historiy tersebut memaparkan bahwa, pada umumnya masyarakat Amerika mengalami dua trauma yang berbeda. Yang pertama adalah trauma akan kehilangan sesama dan kehancuran yang mereka saksikan dan alami sendiri. Trauma ini adalah efek langsung dari serangan tersebut. Kedua, yang cukup menarik adalah ketakutan akan terulangnya kejadian yang telah mereka alami baik di negara mereka sendiri maupun di negara lain. sebahagian dari responden bahkan takut akan pembalasan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah AS kepada negara lain karena mereka telah mengalami kepedihan akibat serangan yang menghancurkan tersebut.
Pasca perang dunia ke II, Amerika telah memperlihatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan dunia yang akan menguasai dunia ini. Hal ini menjadi semakin nyata setelah hancurnya Uni Soviet setelah perang dingin. Sejak saat itu, Amerika menjadi satu-satunya negara di dunia yang menjadi adidaya.
Sebagai satu-satunya negara adidaya, AS mengontrol semua negara di dunia. Ia telah menjadi polisi dunia. Bahkan lebih dari itu, ia telah menjadi hakim bagi negara-negara yang di anggap mempunyai kesalahan. Maka tidak mengherankan di bagian dunia manapun, Amerika ambil bagian dalam menentukan kebijakan yang dikelurkan oleh pemimpin-pemimpin negara. Jika tidak dipatuhi, Embargo yang akan dijatuhkan kepada negara tersebut, atau bahkan perang menjadi hukuman terakhir yang akan dijatuhkan seperti halnya yang di alami oleh Irak yang dipimpin oleh Saddam Husein.
Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Amerika akan dengan mudah menggunakan pengaruhnya ke negara-negara lain, baik itu dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lain sebagainya. Mungkin atas dasar itulah, Francis Fukuyama mengatakan Kapitalisme adalah akhir dari peradaan dunia. Amerika yang menganut paham kapitalisme dalam ideologi negaranya adalah pengontrol dunia saat ini.
Belajar dari kasus kredit perumahan yang macet di Amerika yang menghancurkan ekonomi negara tersebut beberapa waktu yang lalu. Kejadian itu mempengaruhi perekonomian dunia secara keseluruhan. Para pelaku pasar sangat memperhatikan perekonomian Amerika dalam mengambil sebuah keputusan. Tidak hanya di Eropa atau Cina, negara-negara berkembang seperti Indonesia juga mengalami hal yang sama. Semua negara takut akan terjadinya krisis moneter yang melanda dunia akibat kasus tersebut.
Begitupun dalam persoalan minyak dunia yang saat ini sudah menembus angka $ 130 per barel. Ini akibat spekulasi para pedangan minyak yang berada di Amerika. Kasus-kasus ini mengindikasikan bahwa Amerika masih menjadi corong dalam mengambil kebijakan-kebijakan dunia.
Dalam hal keamanan negara, AS merupakan satu-satunya negara yang tidak pernah di serang oleh negara lain. Dengan letak geografis yang sangat jauh baik dari Asia, Eropa maupun Afrika, AS berada dalam posisi yang aman. Bahkan Jepang pada perang Dunia II hanya mampu mencapai kepulauan Hawaii yang berada di Kanada yang cukup jauh dari daratan AS. Sedangkan AS dengan sekutunya mampu menghancurkan Nagasaki dan Hirosima yang mengakibatkan kondisi kedua daerah tersebut hancur berantakan.
Dengan kondisi demikian, maka AS merupakan tempat tinggal yang aman bagi para penduduknya. Masyarakat Amerika bahkan tidak pernah merasakan bagaimana menyedihkannya hidup dalam peperangan seperti yang di alami oleh masyarakat di belahan dunia lain seperti Palestina dan Irak yang hancur akibat invasi AS.
Satu-satunya kesedihan yang melanda masyarakat Amerika adalah bencana alam yang mungkin datang melanda negara tersebut seperti halnya badai Katerine yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Kondisi ini membuat masyarakat Amerika kurang peka terhadap persoalan-persoalan yang menimpa masyarakat di belahan dunia lainya. Mental inilah yang menggerogoti masyarakat Amerika beberapa tahun yang lalu sebelum terjadinya serangan 11 September 2001.
EP Thompson dalam bukunya Protest and Survive pada tahun 1980 menulis bahwa ada beberapa hal yang mendasari terciptanya mentalitas masyarakat AS yang begitu tidak peduli. Pertama, letak geografis yang cukup jauh dari Eropa dan Asia yang dibentengi oleh dua samudera besar. Hal ini menjadikan terbentuknya sebuah kepercayaan pada masyarakat AS bahwa perang hanya terjadi ”diseberang sana” sedangkan ditempat mereka aman sentosa. Tentu saja mentalitas ini berbeda dengan mental masyarakat Asia, Afrika atau Eropa yang pernah mengalami trauma perang. Sehingga ketakutan dalam perang selalu membayangi benak masyarakatnya. Terlebih lagi mentalitas ini ditambah dengan propaganda media dan politisi yang mencari dukungan masyarakat.
Faktor-faktor itulah yang menyebabkan terciptanya mental masyarakat AS yang didasari oleh rasa over-confident dimana Amerika dapat berteriak kepada musuhnya ”Nuklir Mereka”. Di lain pihak, nuklir Amerika yang mampu menghancurkan seluruh dunia tidak pernah dipublikasikan kedunia luar.
Namun, mental Amerika yang seolah tidak mau tahu kondisi masyarakat di belahan dunia lain mulai berubah setelah mereka merasakan sendiri bagaimana pahitnya diserang oleh orang lain. Peristiwa 11 September 2001 telah menyadarkan masyarakat AS akan ketidakpeduliannya terhadap yang lain. Inilah salah satu hikmah atas terjadinya serangan tersebut. Bukan bermaksud untuk membenarkan serangan tersebut, namun, sebagai sokterapi bagi masyarakat AS yang merasa hidup dalam damai.
Faktor lain yang merubah mental masyarakat AS adalah lebih berimbangnya media dalam memberikan informasi. Selama ini, masyarakat AS hanya melihat berita di CNN atau yang lainnya yang selalu memberikan propaganda-propaganda kepada masyarakat AS. Saat ini ada dengan teknologi informasi yang cukup maju, masyarakat AS bisa melihat bagaimana kepedihan yang di alami oleh masyarakat di Irak akibat Perang, atau Palestina yang selalu di serang oleh Israel atau Afganistan dengan perang melawan terorisnya yang disiarkan oleh televisi-televisi Timur Tengah atau melalui internet.
Saat ini, pasca Serangan 11 September 2001, sesuai dengan hasil penelitian dari Columbia University dan lain-lain, masyarakat AS sudah mengalami tingkat solidaritas kebersamaan atas tragedi yang menimpa negara-negara lainnya. Tidak mengherankan saat ini, kita melihat banyak warga Amerika yang menentang perang baik itu di Irak atau bahkan Iran yang mungkin akan menjadi sasaran berikutnya.
Masyarakat AS sudah tidak percaya lagi dengan omongan para politisi yang mengeluarkan kebijakan perang melawan teroris atau perang atas nama menghancurkan senjata nuklir di sebuah negara. Tidak hanya masyarakat AS yang sudah muak dengan perang tersebut, bahkan seluruh duniapun sudah paham apa yang di inginkan oleh penguasa AS sebenarnya.